Renungan untuk Kita yang Mengejar Penghasilan Lebih—Tanpa Memedulikan Jalannya
Begitu masifnya kita mendengar berita korupsi setiap hari. Tak sehari pun terlewat tanpa kabar tentangnya. Itu untuk kalangan “atas.” Di sisi lain, untuk kalangan “menengah,” ada istilah “pungli”—pungutan liar. Juga “ceperan,” penghasilan tambahan di luar pendapatan utama. Untuk kalangan “bawah,” ada istilah “sampingan”—penghasilan sambil lalu, pekerjaan sambilan bagi mereka yang sudah punya penghasilan tetap. Namun ironisnya, bagi sebagian kalangan bawah, justru “sampingan” itulah yang menjadi sumber penghasilan utama mereka.
***
Ada pula istilah “menebus”—menebus ijazah, surat keputusan, atau bukti legalitas apa pun yang pada akhirnya akan mendatangkan penghasilan. Tak peduli bahwa praktik semacam ini mencederai prinsip keadilan dan penghargaan atas prestasi. Abai bahwa penghasilan yang bermartabat seharusnya diperoleh setelah seseorang bekerja keras, berpeluh, mendaki bukit perjuangan dengan jalan yang wajar untuk sampai ke puncaknya—lalu mendapat hasil yang setimpal: penghasilan atau manfaat yang halal dan baik.
Pergeseran Makna yang Menyedihkan
Dulu saya pikir, istilah “ceperan,” “sampingan,” dan “menebus” adalah hal yang biasa. Hal yang halal. Tidak bertentangan dengan hukum. Tidak berlawanan dengan norma. Masih dalam koridor agama atau kepercayaan apa pun. Saya pikir itu sekadar penghasilan tambahan yang mendukung penghasilan utama seseorang—apalagi jika itu dilakukan dalam rangka menyambung hidup, terutama bagi mereka yang merasa belum berkecukupan.
Namun seiring waktu, ternyata pikiran saya itu salah.
Telah terjadi pergeseran makna yang menyedihkan. Apa pun istilahnya, kini semuanya dipersepsikan negatif, berkonotasi buruk. Dan memang, kalau bicara soal halal-haramnya, siapa yang berani menjamin bahwa hal-hal tersebut terjaga kehalalannya? Lantas, kalau bukan halal, bukankah itu berarti haram?
Gratifikasi: Nama Lain untuk Hal yang Sama
Untuk praktik serupa, ada istilah hukum yang lebih formal: gratifikasi—pemberian dari seseorang yang mengharapkan imbalan dari pihak yang diberi, tentu di luar jalur kewajaran. Istilah ini dapat menjerat seseorang secara hukum, sehingga dapat dipidana.
Ternyata, sejak dulu sudah banyak istilah yang intinya sama saja. Ada “upeti,” “hadiah,” “pemberian,” “bantuan”—yang tentu bukan dalam arti aslinya, melainkan setali tiga uang dengan gratifikasi. Istilah-istilah ini digunakan untuk menyamarkan kegiatan tidak wajar yang pada akhirnya merugikan kehidupan masyarakat luas.
Ekonomi Biaya Tinggi: Buah Pahit yang Kita Tuai Bersama
Tentu tak mengherankan, dengan maraknya korupsi, gratifikasi, dan semacamnya, hasil akhirnya adalah ekonomi biaya tinggi. Hidup menjadi tidak nyaman karena selalu ada biaya ini-itu yang mau tak mau harus kita bayar.
Mulai dari melangkah sedikit ke depan atau ke samping rumah, sudah ada model “palakan.” Sampai ke langkah lebih jauh—ke sekolah, kampus, institusi apa pun yang melibatkan birokrasi untuk layanan yang seharusnya menjadi hak kita—selalu ada biaya tambahan yang sebenarnya tidak tertulis dalam aturan mana pun.
Lalu ke jenjang tertinggi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara? Ternyata sama saja: harus ada “pelicin” untuk melancarkan layanan yang seharusnya tak perlu pelumas agar bisa bekerja dengan normal.
Paradoks yang Menyedihkan
Lalu anehnya, dengan “penghasilan” tambahan itu, apakah seseorang lantas hidup lebih nyaman? Ternyata tidak juga.
Masalahnya bukan hanya satu-dua orang yang berprinsip seperti itu—yang tak peduli bagaimana jalannya, yang penting dapat penghasilan lebih.
Hasilnya? Ya seperti yang kita saksikan hari ini.
Sebagai masyarakat, sebagai bangsa, akhirnya semuanya menderita. Tidak ada yang untung. Tidak ada yang menang. Semuanya rugi. Semuanya kalah.
Ekonomi biaya tinggi. Hampir semuanya mahal dibandingkan dengan daya beli umum masyarakat. Hampir semua urusan tidak bisa diurus dengan jalan yang sewajarnya.
Iya, tentu saja mereka yang uang dan kekuasaannya berlebih—kalangan kaya dan berkuasa—masih dapat merasakan hidup yang “lebih baik” dibandingkan kalangan kebanyakan. Namun jangan lupa: mereka juga selalu dihantui rasa takut dan cemas—takut ada yang mencuri, merampok, merampas harta mereka. Hidup dalam tekanan, harus meneruskan gaya hidup yang makin lama makin menuntut materi lebih. Takut suatu saat hukum bisa menjerat mereka dan mengirim mereka ke penjara.
Kelas menengah sampai bawah? Tentu lebih menderita. Kalangan menengah masih berjuang untuk mengamankan kebutuhan primer dan sekunder. Jangankan hidup mewah, kebutuhan sehari-hari pun tidak mudah didapat. Kalangan bawah? Masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan paling dasar: makan apa aku besok?
Lalu Untuk Apa?
Lalu buat apa kita menginginkan penghasilan “lebih” dengan jalan korupsi, gratifikasi, mencari-cari “ceperan” dan “sampingan,” tidak malu “menebus” ini-itu—kalau akhirnya hidup juga tidak lebih nyaman dan mudah?
Kita iri dan ingin seperti negara maju. Namun tak mau menjalani jalan susah seperti masyarakat di sana. Inginnya jalan pintas saja. Instan. Serba cepat dan mengandalkan koneksi, transaksi tidak wajar.
Kita ingin nangkanya saja, tanpa mau bersusah payah dengan pulutnya.
Pertanyaan untuk Diri Sendiri
Jadi, apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup ini?
Bukankah kita ingin hidup aman, nyaman, dan bahagia?
Namun ternyata, apa yang kita alami hari-hari ini—dan sudah ratusan tahun lamanya—belum juga mendekatkan kita pada impian itu.
Lalu mengapa kita demikian “bodoh,” melestarikan hal-hal yang tidak benar? Apakah itu karena kita suka membenarkan kebiasaan, namun tidak membiasakan kebenaran?
Jalan Keluar yang Sederhana
Bukankah lebih mudah bila kita tidak perlu berusaha lebih dengan cara-cara tidak halal? Tidak perlu korupsi, gratifikasi, mencari-cari “ceperan” dan “sampingan,” tidak perlu “menebus” ini-itu?
Cukuplah kita berusaha dengan cara yang wajar dan berpuas diri dengan penghasilan kita. Memang kita tidak akan lantas menjadi kaya raya secara dadakan. Ya, mungkin hidup akan begini-begini saja. Namun yang jelas: tidak miskin. Dan yang terpenting: hidup menjadi lebih mudah.
Walaupun tidak banyak uang berlebih di tangan kita, namun kalau urusan apa pun berjalan cepat dan wajar, tidak ada biaya tambahan ini-itu, keadilan merata di mana-mana—bukankah itu sudah cukup buat kita?
Visi Kebahagiaan yang Sesungguhnya
Tidak perlu lagi usaha non-halal yang lain. Kerjakan saja apa yang sudah ada sebaik mungkin.
Kalau semua orang berpikiran sama seperti ini, tentu tidak akan ada lagi ekonomi biaya tinggi, ketimpangan sosial, kerawanan, dan ketidakadilan. Daya beli memang tidak meningkat drastis, tapi kalau segala sesuatu biayanya terjangkau karena wajar—tanpa tambahan ini-itu—dan pemanfaatan uang bisa berjalan di jalurnya yang benar dan tepat, hidup ini akan menjadi lebih mudah, nyaman, dan indah.
Impian untuk menjadi negara yang berkeadilan dan maju pun bukan lagi sesuatu yang mustahil. Kebahagiaan itu lah adanya.
Penutup
Apa yang sebenarnya kita inginkan dalam hidup ini?
Hidup aman, tenang, nyaman, bahagia—bukan?
Lalu bagaimana caranya?
Ya, itu tadi: tak perlu korupsi, gratifikasi, mencari-cari “ceperan” dan “sampingan,” tak perlu “menebus” ini-itu. Cukuplah menjalani hidup ini dengan kewajaran. Tak perlu menginginkan penghasilan “lebih” dengan cara yang salah. Cukup jalani sebaik mungkin saja.
Semoga, semuanya berbahagia.

