Wawasan 001—Yang Kita Punya Itulah yang Terbaik

Sebuah Renungan tentang Syukur, Iri Hati, dan Rahmat yang Tersembunyi di Balik Kehidupan Kita

Ada sebuah kegelisahan yang diam-diam bersemayam di hati setiap manusia — sebuah bisikan kecil yang tak pernah berhenti bertanya: Mengapa bukan aku?

Ketika sesuatu yang baik terjadi pada orang lain, bisikan itu tumbuh menjadi protes. Mengapa kita tidak memiliki ini? Mengapa kita tidak berada di sana? Mengapa hidup ini tidak seperti yang kita bayangkan? Dan ketika sesuatu yang buruk menimpa kita, bisikan itu berubah menjadi jeritan: Mengapa harus aku? Apa salahku? Apakah dunia ini memang tidak adil?

Kita semua pernah berada di persimpangan itu. Kita semua pernah menatap kehidupan orang lain dengan mata yang dipenuhi rasa haus akan sesuatu yang bukan milik kita.

Paradoks Keinginan Manusia

Perhatikanlah, betapa ironisnya keinginan manusia. Yang masih lajang, mendambakan pernikahan — membayangkan kehangatan rumah tangga, makan malam berdua, dan seseorang yang menunggu di rumah. Namun yang sudah menikah? Tak jarang merindukan kembali kebebasan masa lajangnya: pergi tanpa perlu izin, tidur tanpa kompromi, dan hidup tanpa beban tanggung jawab pasangan.

Yang menganggur, bermimpi mendapatkan pekerjaan — pekerjaan apa pun — agar roda kehidupan bisa berputar. Sementara itu, yang terjebak dalam kesibukan tanpa henti, menatap langit-langit kantor dengan lelah, membayangkan betapa enaknya punya waktu luang tanpa batas. Yang sendirian merindukan kebersamaan. Yang selalu bersama, merindukan kesendirian.

Manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang selalu menginginkan apa yang tidak dimilikinya. Dan itu, sejatinya, tidaklah salah.

Protes Sebagai Titik Awal

Tidak ada yang salah dengan memprotes keadaan. Itu manusiawi. Itu natural. Bahkan, bisa dikatakan bahwa protes adalah percikan pertama yang menyalakan api perubahan. Tanpa ketidakpuasan, tidak akan ada dorongan untuk memperbaiki diri. Tanpa pertanyaan “mengapa tidak lebih baik?”, kita tidak akan pernah bergerak maju.

Namun, protes saja tidaklah cukup. Protes tanpa tindakan hanyalah keluhan. Protes tanpa konsekuensi hanyalah angin lalu. Ketika kita memprotes keadaan, pertanyaan sesungguhnya bukanlah “mengapa hidup ini tidak adil?” melainkan “apa yang akan kulakukan untuk mengubahnya?”

Di sinilah letak perbedaan antara mereka yang sekadar mengeluh dan mereka yang benar-benar bergerak. Konsekuensi terhadap protes kita — itulah yang membedakan antara orang yang terjebak di tempat yang sama dan orang yang melangkah menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Bersyukur: Langkah yang Lebih Tinggi

Ada sebuah jalan yang lebih baik, lebih dalam, dan lebih bermakna daripada sekadar protes. Jalan itu bernama syukur.

Bersyukur. Berterima kasih kepada Tuhan atas apa yang sudah ada. Berdamai dengan kenyataan sebelum berlari mengejar mimpi. Kedengarannya sederhana, bukan? Namun siapa pun yang pernah mencoba tahu bahwa bersyukur adalah salah satu tindakan paling sulit yang bisa dilakukan seorang manusia.

Langkah pertama: menerima dengan penuh rasa terima kasih. Langkah kedua: tetap berusaha membuat segalanya lebih baik. Perhatikan — langkah kedua ini persis sama dengan jalan protes tadi. Bedanya hanya di titik awal. Namun titik awal inilah yang mengubah segalanya.

Ketika kita memulai dari syukur, ada dimensi ibadah yang menyertai setiap langkah. Ada keringanan di kaki yang melangkah. Protes mungkin masih ada — itu manusiawi — tetapi langkah kita tidak lagi terasa berat, karena kita berjalan bukan dari kekosongan, melainkan dari kelimpahan.

Syukur yang Mudah Diucapkan, Sulit Dijalankan

Mari kita jujur: bersyukur itu tidak mudah. Terutama ketika hidup terasa tidak memberikan apa-apa.

Ada pandangan umum yang berkata bahwa mudah saja bagi orang kaya untuk bicara tentang syukur. Tentu saja — ketika rekening penuh, perut kenyang, dan atap rumah kokoh, kata “syukur” mengalir lancar dari bibir. Namun bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki apa-apa? Apa yang mau disyukuri?

Di sinilah kebanyakan orang lupa akan sebuah kebenaran sederhana namun mendalam: kesehatan adalah nikmat yang sering kita abaikan sampai ia menghilang. Kita tidak pernah benar-benar menghargai tubuh yang sehat sampai kita jatuh sakit. Kita tidak pernah mensyukuri napas yang lancar sampai dada terasa sesak. Kita tidak pernah bersyukur bisa berjalan sampai kaki tak mampu lagi melangkah.

Maka, selama kita masih sehat, sesungguhnya kita memiliki modal paling berharga di dunia. Dengan kesehatan, kita bisa melakukan apa saja. Kita bisa membangun apa saja. Kita bisa mengubah segalanya. Kesehatan adalah alasan yang lebih dari cukup untuk mulai bersyukur.

Si Miskin dan Si Kaya: Sebuah Cermin Dua Arah

Izinkan saya bercerita tentang dua orang yang saling menatap dari seberang jurang kehidupan.

Si Miskin menatap Si Kaya dengan iri yang membakar dada. Lihatlah, betapa mudahnya Si Kaya membeli apa saja. Makan di restoran mewah. Berpakaian indah. Rumahnya megah. Mobilnya berkilau. Kehidupan yang tampak tanpa beban.

Namun Si Miskin tidak tahu — di balik kemewahan itu, Si Kaya menanggung gunung utang melalui perusahaannya. Setiap akhir bulan adalah pertempuran: bagaimana menggaji karyawan, bagaimana menjaga usaha agar tidak merugi, bagaimana bertahan di lautan persaingan yang tak kenal ampun. Si Miskin tidak tahu bahwa Si Kaya memiliki penyakit serius yang memaksanya minum obat seumur hidup, yang membuatnya tidak bisa menikmati makanan sesuka hati. Di meja makan yang dipenuhi hidangan mewah, Si Kaya hanya bisa menatap — karena tubuhnya menolak.

Dan dari seberang jurang itu, Si Kaya menatap balik. Ia iri kepada Si Miskin yang bisa makan apa saja tanpa pantangan. Yang bisa menikmati sepiring nasi hangat dengan lauk sederhana tanpa harus menghitung kalori atau mencemaskan efek samping obat. Yang tidak perlu memikirkan gaji ratusan karyawan. Yang bisa memejamkan mata di malam hari tanpa bayang-bayang utang yang menghantui.

Namun Si Kaya pun lupa — bahwa makan butuh biaya. Bahwa sepiring nasi sederhana pun memerlukan uang untuk membuatnya nyata. Bahwa tidur nyenyak membutuhkan perut yang kenyang terlebih dahulu. Dan tanpa uang, bahkan memejamkan mata pun menjadi perjuangan tersendiri.

Memang benar — uang bukanlah segalanya. Tetapi tanpa uang, segalanya menjadi sulit.

Rumput Tetangga yang Selalu Lebih Hijau

Ada pepatah tua yang mengatakan: “Rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau.” Dan memang, begitulah adanya. Kita selalu melihat kehidupan orang lain dari sisi terbaiknya, sementara kita menjalani kehidupan kita sendiri dari sisi terberatnya.

Kita melihat senyum mereka, tetapi tidak melihat air mata di baliknya. Kita melihat kesuksesan mereka, tetapi tidak melihat kegagalan yang mendahuluinya. Kita melihat rumput hijau mereka, tetapi tidak melihat keringat, pupuk, dan air mata yang menyiraminya.

Dan di balik hijau yang mempesona itu, mungkin ada tanah yang gersang. Mungkin ada akar yang membusuk. Mungkin ada cerita yang tidak pernah mereka bagikan kepada siapa pun.

Kembali kepada Diri Sendiri

Pada akhirnya, semua kembali kepada diri kita masing-masing. Ada tiga jalan yang terbentang di hadapan kita.

Jalan pertama: protes saja, tanpa berbuat apa-apa. Mengeluh sepanjang hari, menyalahkan takdir, dan terjebak dalam lingkaran kepahitan yang tidak berujung.

Jalan kedua: protes, namun tetap berusaha. Menggunakan ketidakpuasan sebagai bahan bakar untuk bergerak maju, sambil terus menerus bertarung dengan rasa tidak cukup yang menggerogoti dari dalam.

Jalan ketiga: bersyukur terlebih dahulu, lalu bergerak untuk memperbaiki segalanya. Menerima dengan lapang dada apa yang sudah ada, kemudian dengan langkah yang ringan dan hati yang tenang, membangun kehidupan yang lebih baik.

Yang Kita Punya Itulah yang Terbaik

Hanya Tuhan yang mengetahui mengapa kita berada di tempat ini, di waktu ini, dengan kondisi ini. Mungkin kita tidak akan pernah memahami sepenuhnya rencana-Nya. Namun jika kita mau merenungkannya — benar-benar merenungkannya — dengan melibatkan pendekatan transenden yang melampaui logika dan kalkulasi duniawi, kita akan sampai pada satu kesimpulan yang membebaskan:

Apa pun yang kita miliki saat ini — itulah yang terbaik untuk kita.

Bukan karena kita tidak boleh bermimpi lebih besar. Bukan karena kita harus berhenti berusaha. Tetapi karena di dalam apa yang kita miliki sekarang, tersembunyi hikmah yang mungkin baru akan kita pahami bertahun-tahun kemudian. Di dalam keterbatasan kita, ada kekuatan. Di dalam kekurangan kita, ada ruang untuk tumbuh. Di dalam kehidupan kita yang tampak biasa-biasa saja — ada keajaiban yang menunggu untuk ditemukan.

Maka, bersyukurlah. Bukan karena hidup sudah sempurna, tetapi karena dalam ketidaksempurnaan itulah kita menemukan alasan untuk terus melangkah. Yang kita punya — itulah yang terbaik. Dan dari situ, segalanya bisa menjadi lebih baik lagi.

Written by

Irfan Subakti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *